![]() |
| Ilustrasi anak bersama ibunya. (Sumber foto: Pinterest) |
Ruang Psikologi - Tidak semua anak mudah terbuka terhadap orang tua. Ada yang cenderung tertutup karena malu, segan, atau bahkan takut untuk bercerita dengan orang tuanya. Seberapa terbuka komunikasi anak dengan orang tua memengaruhi tumbuh kembang anak di masa depan. Bahkan, bagaimana orang dewasa berkomunikasi adalah cerminan dari komunikasi yang dimilikinya dengan orang tuanya.
Kadangkala, orang tua tidak sadar bahwa bagaimana mereka merespons terhadap cerita anak akan membentuk persepsi sang anak tentang orang tuanya sendiri. Tidak semua orang tua bisa menjadi pendengar yang baik bagi anaknya. Banyak yang berhasil di luar sana, namun beberapa tidak. Komunikasi yang kurang baik akan berdampak negatif bagi kehidupan anak di masa depan dari segi psikologis, pendidikan, hingga karier.
Selain tentang bagaimana anak didengarkan, orang tua hendaknya juga memerhatikan gaya dalam menyampaikan sesuatu kepada anak. Ada kalanya anak perlu dinasihati, dan disitulah peran orang tua hadir. Bagaimana nasihat disampaikan akan berdampak besar terhadap tumbuh kembang sang anak. Dalam bukunya yang berjudul "How to Talk So Kids Will Listen dan Listen So Kids Will Talk", Adele Faber dan Elaine Mazlish menyampaikan enam resep rahasia untuk para orang tua dalam menciptakan komunikasi yang baik dengan anak.
1. Gambarkan atau Deskripsikan
Deskripsikan apa yang sebenarnya terjadi. Bagi beberapa anak, terutama mereka yang masih kecil, bahasa yang terlalu lugas dan direct belum mampu mereka tangkap. Contohnya, daripada mengatakan "Bereskan mainan sekarang juga!", anda bisa mengatakan "Ayo mainan siapa ini yang berceceran? Robot ada di atas meja, dinosaurus ada di kolong kursi. Kalau berceceran, nanti bisa hilang, nanti adik mainnya bagaimana? Yuk bereskan."
Deskripsi yang anda jelaskan bisa berupa akibat yang akan terjadi seperti contoh di atas. Anda bisa menggantinya dengan apapun yang mungkin lebih sesuai dengan keadaan anda. Melalui deskripsi, pesan akan tersampaikan dengan lebih halus tanpa kesan mengomandoi.
2. Informasikan
Mirip dengan poin deskripsi, namun informasi bersifat lebih faktual. Contohnya seperti ini. Anda bisa saja mengatakan "Siapa yang menumpahkan gula di meja?", dan itu bisa diganti dengan "Kalau gula tumpah dan berserakan seperti ini, akan banyak semut. Gula juga sulit untuk dibersihkan karena lengket dan menempel di sapu."
Cara ini mengedepankan logika dan argumen rasional. Melalui cara ini juga anak akan terlatih untuk berbicara sesuai fakta-fakta yang ada serta memikirkan dampaknya sebelum melakukan sesuatu.
3. Sampaikan Intinya
Jika dua cara sebelumnya menyampaikan opsi dengan halus namun lebih panjang, cara ini sebaliknya. Dengan fokus ke intinya, anak akan mengerti apa yang sesungguhnya hendak anda sampaikan. Saat anak membuat anda jengkel dan marah, apa yang anda sampaikan seringkali adalah pelampiasan atas apa yang ada rasakan, bukan apa yang sebenarnya perlu untuk anda katakan.
Misalnya saat anak anda merengek minta dibelikan krayon mewarnai yang mahal namun dia malah melupakannya begitu saja. Anda pasti akan terasa ingin melontarkan, "Kamu pikir krayon ini murah? Kenapa kamu sekarang tidak menggunakannya? Kamu membuang-buang uang namanya!". Padahal sebenarnya inti pesan tetap dapat tersampaikan dengan anda mengatakan hal ini, "Ibu ingin melihat adik menggunakan krayon yang kita beli kemarin dong, adik bilang adik suka krayon itu kan?".
4. Utarakan Perasaan Anda
Penting untuk melatih anak memiliki simpati dan empati sedari dini. Anak yang peka secara sosial di luar sana terlatih dari didikan keluarga yang menghargai emosi dan perasaan satu sama lain. Kejujuran emosional adalah modal utama untuk bersimpati dan berempati. Setelah jujur dengan perasaan diri sendiri maupun orang lain, barulah bisa mengerti bagaimana seharusnya memvalidasi perasaan tersebut.
Contohnya saat anda sudah menyiapkan bekal sejak pagi hari untuk mereka, namun mereka tidak menghabiskannya, atau bahkan tidak memakannya sama sekali. Anda bisa menyampaikan seperti ini, "Dik, Ibu sangat sedih kalau adik tidak menghabiskan makanan yang ibu siapkan. Kemarin saat adik menghabiskan makanannya, ibu senang sekali loh."
Dengan anak mengetahui apa yang anda rasakan, anak akan mengerti bagaimana seharusnya ia bersikap. Umumnya anak ingin membuat orang tua mereka senang. Karenanya, penting bagi mereka untuk mengetahui apa yang membuat anda senang dan tidak senang.
5. Gunakan Catatan Tertulis
Perintah verbal seringkali mudah untuk dilupakan. Selain itu, anda juga harus mengingatan anak berkali-kali, yang mana malah bisa membuat anak jengkel dan enggan mendengarkan anda. Menyampaikannya secara tertulis adalah ide yang bisa diterapkan. Dengan membiasakan disiplin melalui reminder atau to do list secara tertulis, disiplin anak akan tumbuh secara perlahan dengan sendirinya.
Misalnya, daripada mengomel setiap malam karena mereka belum mengerjakan PR, anda bisa menuliskan catatan dan menempelnya di kamar mereka. Tulisan bisa berupa "Ayo, PR-nya apa sudah selesai?" atau bisa juga "Jangan lupa kerjakan PR untuk besok :)", dan lain sebagainya.
Perlahan, disiplin akan tumbuh seiring waktu tanpa anda perlu mengomel kapada mereka setiap saat.
6. Komunikasikan Perasaan Negatif Dengan Hati-hati
Meski penting untuk jujur secara emosional dengan anak seperti yang dijelaskan dalam poin 4, anak belum matang seerti diri anda yang orang dewasa dalam hal memproses berbagai emosi yang ada. Tetap harus berhati-hati dalam menyampaikan emosi negatif seperti marah atau kecewa kepada anak. Hati-hati dalam hal ini bisa melalui pemilihan kata yang digunakan.
Anda bisa juga mempertimbangkan untuk menggunakan sudut pandang "aku" dibanding "kamu" yang langsung menyudutkan sang anak. Misalnya seperti ini, "Ibu tidak mengerti kenapa adik tidak mengerjakan PR matematika kemarin. Bu guru di sekolah memberi tahu ibu. Boleh ibu tahu kenapa?".
Membangun komunikasi yang efektif dengan anak bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna, melainkan tentang menjadi orang tua yang mau belajar memahami perspektif anak. Dengan menerapkan enam metode di atas, Anda sedang membangun jembatan kepercayaan yang akan menjadi fondasi kesehatan mental dan karakter anak hingga mereka dewasa nanti.
Ingatlah bahwa perubahan besar dimulai dari cara kita merespons cerita kecil mereka hari ini.
***
Penulis: Sandrian
Editor: Ama Afifah
Referensi: How to Talk So Kids Will Listen dan Listen So Kids Will Talk (Adele Faber & Elaine Mazlish).
*Artikel ini telah disesuaikan untuk kebutuhan edukasi di platform Ruang Psikologi Indonesia.

0 Comments