TUW8BSOlTpz6GfClBSG9GfWlTd==

Sering Dianggap Manja? Ini Alasan Psikologis di Balik Sikap Manja Anak


Ilustrasi anak yang tertekan karena orang tuanya. Sumber: Pinterest.
Ilustrasi anak yang tertekan karena orang tuanya. (Sumber Foto: Pinterest)

RUANG PSIKOLOGI – Orang dewasa mungkin melihat anak yang merengek meminta es krim atau balon sebagai perilaku manja. Namun, apakah label "manja" tersebut adil bagi anak usia batita?

Apa yang dinilai sebagai sikap manja dalam standar orang dewasa, sebenarnya bisa jadi merupakan hal normal dalam fase perkembangan anak. Kematangan emosional anak belum sempurna, sehingga cara berkomunikasi mereka pun masih sangat terbatas. Menangis atau merengek sering kali menjadi satu-satunya cara terbaik yang mereka ketahui untuk mengekspresikan emosi.

Meski normal pada usia tertentu, sikap ini bisa berkembang menjadi perilaku negatif yang menetap jika dipicu oleh pola asuh yang keliru. Melalui buku Love Learning, Stephen F. Duncan menjelaskan 3 faktor utama yang menyebabkan perilaku manja pada anak:

Faktor Penyebab Perilaku Manja pada Anak

1. Kurangnya Perhatian yang Cukup (Under-attention)

Beberapa anak tumbuh di lingkungan yang tidak memberikan perhatian emosional yang cukup. Akibatnya, anak belajar secara tidak sadar bahwa mereka harus bersikap "ekstra" agar didengar.

Dampak pada Anak? Anak memahami bahwa orang tua baru akan merespons ketika mereka merengek atau mengamuk (tantrum). Pola ini membuat perilaku manja menjadi cara bertahan hidup anak demi mendapatkan kasih sayang.

2. Terlalu Banyak Perhatian Tanpa Batas (Over-attention)

Memberikan perhatian adalah bentuk kasih sayang, namun jika berlebihan dan melewati batas sehat, dampaknya justru buruk.

Dampak pada Anak? Anak yang terbiasa menjadi pusat perhatian sepanjang waktu akan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sosial. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang haus pengakuan dan mudah frustrasi saat keinginannya tidak langsung dituruti oleh orang lain.

3. Minimnya Batasan yang Sehat dan Tegas (Lack of Boundaries)

Banyak orang tua yang keliru mengartikan kasih sayang dengan cara menuruti semua keinginan anak tanpa memedulikan kedisiplinan.

Dampak pada Anak? Tanpa adanya batasan (rules) yang tegas sejak dini, anak tidak akan mengenal konsep aturan. Di masa depan, hal ini berpotensi memicu konflik besar bagi anak saat mereka mulai memasuki lingkungan sekolah atau pertemanan.

Keseimbangan Pola Asuh Menjadi Kunci Utama

Anak memang membutuhkan perhatian, namun dalam porsi yang sehat dan proporsional. Tugas orang tua adalah belajar membaca kode emosi yang ditunjukkan anak, karena tidak semua anak bisa mengekspresikan kebutuhannya dengan jelas.

Menetapkan batasan dan kedisiplinan bukanlah tindakan yang kejam. Sebaliknya, konsistensi dalam menerapkan aturan yang sehat adalah bentuk tertinggi dari rasa peduli orang tua terhadap masa depan dan kesuksesan karakter anak.

***


Artikel ini ditulis oleh: Sandrian Rachman (Content Writer of Ruang Psikologi Indonesia)

Editor: Ama Afifah

Referensi: Duncan, S. F. (2016). Love Learning: A New Approach to Parenting.

Tentang Kami: Ruang Psikologi Indonesia adalah platform edukasi psikologi lintas disiplin di bawah naungan Yayasan Gempita yang menghubungkan ilmu, refleksi diri, dan kolaborasi. Kami percaya bahwa psikologi harus inklusif dan menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat. Mari terus belajar, berkembang, dan berkolaborasi bersama kami di Instagram @ruangpsikologi.idn

0 Comments

Contact Us

contact Gempita

Connect with the GEMPITA Foundation to jointly realize concrete actions in the social, humanitarian, and religious fields for communities in need.

Gempita Form

Popup Image